Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota . Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorang pun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun.
Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh. Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam tidur di emperan took itu.
Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya.
Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota . Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.
Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figure gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo. Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu.
Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, dimana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang.
Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?" Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna.
Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.
Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik. Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.
Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja". Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan".
Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu."
Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. "Tuhan", ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, "beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya". Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. "Mama....", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya. "Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..." Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja....." Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.
GBU ALL
[Akon]
When I see you
I run out of words to say (oh oh)
I wouldn't leave you
'Cause you're that type of girl to make me stay (oh oh)
I see the guys tryna' holla
Girl I don't wanna bother you
'Cause you're independent and you got my attention
Can I be your baby father
Girl I just wanna show you
That I love what you are doin' hun
I see you in the club
You gettin' down good
I wanna get with you, yeah
I see you in the club
You showin' thugs love
I wanna get with you
You're so beautiful
So damn beautiful
Said you're so beautiful
So damn beautiful
[Akon & Colby O'Donis]
You're so beautiful
beautiful
beautiful
beautiful
You're so beautiful
beautiful
beautiful
beautiful
You're so beautiful
[Colby O'Donis]
Like the clouds you
Drift me away, far away (yeah)
And like the sun you
Brighten my day, you brighten my day (yeah)
I never wanna see you cry cry cry
And I never wanna tell a lie lie lie
Said I never wanna see you cry cry cry
And I never wanna tell a lie lie lie
[Akon]
I see you in the club
You gettin' down good
I wanna get with you, yeah
I see you in the club
You showin' thugs love
I wanna get with you
You're so beautiful
So damn beautiful
Said you're so beautiful
So damn beautiful
[Akon & Colby O'Donis]
You're so beautiful
Beautiful
Beautiful
Beautiful
You're so beautiful
Beautiful
Beautiful
Beautiful
[Kardinal Offishall]
Kardinal told you
Whether the sky blue or yellow
This fella ain't that mellow
If it ain't about you (you)
Hourglass shape make the place go (ooohhh)
Waistline makes my soldier salute
I'mma brute (brute)
High from your high heel game
High heels push up ya ass last name
And you livin' in the fast lane
Eyes like an angel (goddess)
Watch my yellin' as she undress
Spotless (otless) bad to the bone
Make me wanna go put me in the triple X zone (zone)
Lames don't know how to talk to you
So let me walk with you, hold my hand
I'mma spend them grands, but after you undress
Not like a hooker, but more like a princess
Queen, empress, president
Pull any way ya got my love
'Cause your beautiful (okay??)
[Akon]
I see you in the club
You gettin' down good
I wanna get with you (ohh yeah)
I see you in the club
You showin' thugs love
I wanna get with you
You're so beautiful
So damn beautiful
Said you're so beautiful (so beautiful)
So damn beautiful (so beautiful)
[Akon & Colby O'Donis]
You're so beautiful
beautiful
beautiful
beautiful
You're so beautiful
beautiful
beautiful
beautiful
You're so beautiful
[Akon]
Where'd you come from you're outta this world
To me (ohh ohh)
You're a symbol of what every beautiful woman should be (oooh wee)(ohh ohh)
[Colby O'Donis]
I never wanna see you cry cry cry (don't cry)
And I never wanna tell a lie lie lie (oh yeah)
Said I never wanna see you cry cry cry (ohhhh)
And I never wanna tell a lie lie lie (lieee)
[Akon]
I see you in the club
You gettin' down good
I wanna get with you (ooh yeah)
I see you in the club
You showin' thugs love
I wanna get with you
You're so beautiful
So damn beautiful
Said you're so beautiful
So damn beautiful
You're so beautiful
Oooohh Yeah Oh Oh Oh
I never needed you to be strong,
I never needed you for pointing out my wrongs,
I never needed pain,
I never needed strain,
My love for you was strong enough you should have known,
I never needed you for judgements,
I never needed you to question what I spend,
I never asked for help,
I take care of myself,
I don't know why you think you've got a hold on me
And it's a little late for conversations,
There isn't anything for you to say,
And my eyes hurt, hands shiver,
So look at me, and listen to me..
(Because)
I don't want to stay another minute,
I don't want you to say a single word,
(Hush, hush, hush, hush)
There is no other way, I get the final say,
Because..
I don't want to do this any longer,
I don't want you, there's nothing left to say,
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby, hush, hush.
I never needed your corrections,
On everything, from how I act, to what I say,
I never needed words,
I never needed hurts,
I never needed you to be there every day,
I'm sorry for the way I let go,
Or everything I won't need when you came along,
But I am never beaten, broken, not defeated,
I know that next to you is not where I belong,
And it's a little late for explanations,
There isn't anything that you can do,
And my eyes hurt, hands shiver,
So you will listen when I say..
I don't want to stay another minute,
I don't want you to say a single word,
(Hush, hush, hush, hush)
There is no other way, I get the final say,
Because..
I don't want to do this any longer,
I don't want you, there's nothing left to say,
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby, hush, hush.
First I was afraid....I was petrified
Kept thinking I could never live
Without you by my side...
But I spent so many nights
Thinking how you did me wrong
But I grew strong...I learned how to carry on....
(Because)
I don't want to stay another minute,
I don't want you to say a single word,
(Hush, hush, hush, hush)
There is no other way, I get the final say,
Because..
I don't want to do this any longer,
I don't want you, there's nothing left to say,
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby, hush, hush.
Yeahhhh Ohhh Ohhh Ohhh
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby..
Buka Bareng (Bubar) Brijarbara...
0 komentar Diposting oleh Rizdiani Tri Prastiti's Blog di 14.16.00waktu hari sabtu, saya tuh yang namanya sibuk tuh, emang bener sibukk... jam 6.30 harus udah ada di sekolah.. beres-beresin sergun, nyapu ruang ibu golek, latihan nyanyi, drama, dll.. terus, jam8.00 am sibuk ngurusin yang lomba busana muslim... jam 8.00-11.00 tuh saya lari kesana -kemari manggil semua panitia brijar ramadhan buat latihan tampil, manggil juri, jadi MC, nyanyi di sergun, drama, pembagian sertifikat yang menang, dll... pass udah gitu, kita ditegur sama akang karena kerja kita kurang memuaskan... memang siihh, menurut saya dan teman-teman juga gitu... kita kurang bangetlah... kurang perfect bangett... waktu jadi MC juga kita udah ditegur... memang siihh, saya sama sekali tidak berpengalaman menjadi MC... tapi karena mendadak, dan yang ada disitu cuma saya sama temen saya itu, jadi kita deh yang jadi MC...
waktu manggil semua temen-temen buat latihan buat tampil, kita udah pasrah sama apa yang bakal terjadi nanti... kita latihan seadanya... waktu latihan nyanyi, kita tuh baru nentuin nada kita dimana... jujur, suara kita lagi pada fals... yang drama, mereka terus ngafalin teks cinderella dan putri Irakus... Dan waktu tampil... yang nyanyi tuh sama sekali gak gerak...!! kayak lagi upacara aja tuh, diem kayak sikap sempurnaa... hahaha... dan suara kita juga kurang powernya... yang drama sih udah bagus banget... tapi masih ada yang a, i, u, e, o kelamaan mikir atau lupa teksnya...
kita nyadar, kita tuh kurang banget lahh sama yang diharepin semuanya... kita kurang sigap, kita kurang latihan, dan kita juga pada baru pertama kali jadi panitia, karena kita masih bina... kita juga ditegur ( bukan dimarahin ) sama para senior kita... kita harus bisa melaksanakan tugas pertama kita dengan sempurna, kalau ini sihh, kita belum sempurnaa... bukan karena waktu latihan kita yang kurang, tapi, kita baru bergerak 4 gari sebelum hari-H...! padahal, kita udah dikasih tau kalau bakal diadain brijar ramadhan 2 minggu sebelum hari-H... tapi, kita pada nganggap enteng... itu pelajaran pertama...
kira-kira jam12 kurang.. udah selesai itu, kita beres-beresin sergun lagii... semua anggota bina pada pulang dan bakal balik lagi ke sekolah jam 4... kalau saya sama 3temenku sih, malah main-main, nyanyi-nyanyi, tidur-tiduran, ngobrol-ngobrol di sergun... kita baru pulang jam 1an...
saya di rumah tidur-tiduran gara-gara kecapean... udah selesai shalat, saya balik lagi ke sekolah buat buka bersama... pass udah dateng di sekolahh... kita sibuk ngurusin pemeran drama yaitu, raja dan ratu, gara-gara pemerannya pada gak bisa dateng buat bubar and tampil lagi didepan kaka-kaka alumni... kita tampil lagi dehh di depan alumni... yang nyanyi sih rada lumayan lebih baik dari yang sebelumnya... tapi yang drama, karena raja and ratuinya gak dateng, jadi aja diganti pemerannya secara mendadak... jadi kurang kelihatannya... sambil nunggu bubar, kita main games sama senior (kaka kelas 8 ) dan para alumni...
pass bedug adzan maghrib berkumandang, kita langsung ngambil takjil... shalat, and langsung makan berat... udah selesai makannya, kita disuruh merenung atau bermuhasabah... kita disuruh merem and ngebayangin kalau kita tuh udah pernah ngebemntak, ngelawan, ngebantah orangtua... dan pada saat itu, kita merenung gimana kalau orangtua kita meninggal... nauudzubillahimindzalik... kita semua nangis pada saat itu... saya juga nangis karena, gak bisa nahan tangisan... kita semua mikir, kita harus cepat-cepat minta maaf sama orangtua sebelum terlambat...
udah gitu, sekitar jam 7.30an kita pada pulang deh semua... huh... hari yang melelahkan...





