Mencintai Yang Tidak Sempurna Dengan Cara Yang Sempurna
0 komentar Diposting oleh Rizdiani Tri Prastiti's Blog di 08.43.00kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.
Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan.
Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita.Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa,
Ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat :
"Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat
semuanya berhasil" Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin
ada seseorang. Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu"
Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak...
Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan.
Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna
sumber: http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/m/c1216.shtml
Cinta pertama bukan pacar pertama. Firts love adalah saat kita jatuh cinta pertama kali pada seseorang. Biasanya pada usia belia. Bisa 10 , 12, 13 bahkan 8 tahun! Pada usia sehijau itu, kita bahkan tidak tahu apa itu cinta yang sesungghnya atau bukan. Yang jelas kita kasmaran pada seseorang. Tak bisa tidur. Lagu First Love-nya Nikka Costa sangat mewakili perasaan itu. "Everyone can see...there's a change in me...bla bla bla".
Di usia sebelia itu, bayangan kita tentang cinta sangatlah indah dan mulia. Tidak ada bumbu seks. Boro-boro deh!. Tepat sekali kalau diibaratkan cinta masa itu sebagai domba yang cute dan innocent. Lembut, polos, kekanakan dan menggemaskan. Bebas dari dosa. Sungguh definisi cinta dalam arti paling murni.
Seiring waktu, usia tambah dewasa. Cinta pertama terlupakan sejenak. Menyusul cinta kedua, ketiga, kesebelas..ke sekian puluh...ke seratus..dan seterusnya. Kian angka itu bertambah, kian jauh dari gambaran indah. Ada seks, nafsu, obsesi materi, dan sejenisnya.
Kalau 1st love adalah domba yang imut, maka semua hal buruk-buruk yang menyelingi cinta berikut-berikutnya adalah serigala. Katakanlah seks itu serigala. Maka sekarang, di usia yang tak lagi belia, maka yang beredar adalah serigala berbulu domba. Tambah sulit saja mengenali mana domba sejati. Bahkan mungkin tidak ada lagi.
Itulah mengapa dikatakan first love never die. Sebab memang 1st love adalah cinta paling agung dalam hubungan lelaki-perempuan. Tidak ada nafsu seks, obsesi kecantikan, ketampanan, kekayaan dan sebagainya. Dan kini yang kita jumpai dimana-mana adalah serigala berbulu domba. Sungguh ironis.
sumber: http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/p/c1532.shtml
Pernahkah anda berpacaran? Untuk pertanyaan ini, saya yakin mayoritas akan menjawab pernah. Karena melalui pacaran itulah kita mencoba untuk menjajagi dan mengenali pasangan kita masing-masing. Tapi benarkah pacaran itu memang efektif sebagai mediasi untuk memahami segala sesuatu tentang calon pasangan hidup kita? Kalau memang efektif, kenapa masih banyak pasangan suami isteri yang memutuskan untuk bercerai setelah sekian tahun menikah meskipun sebelumnya sudah diawali dengan pacaran?
Seperti tulisan saya sebelumnya "Let's talk about love : Cinta..., cinta?", saya akan mencoba untuk sedikit mengupas mengenai pacaran ini berdasarkan pengalaman, pemikiran dan persepsi pribadi saya. Bukan berdasarkan pemikiran para filosof dan psikolog atau mengutip buku-buku mereka. Sehingga apapun yang akan saya sampaikan nantinya masih sangat debatable.
Pacaran, dalam persepsi saya, ternyata tidak dibutuhkan sama sekali. Pacaran bagi saya tidak ada manfaatnya dan hanya menghabiskan energi saja. Karena perhatian, konsentrasi, waktu, bahkan uang kita akan habis tersedot selama proses berpacaran yang kita lakukan atas nama cinta tersebut. Apabila dihitung-hitung dan ditimbang-timbang, ternyata pacaran tidak terlalu banyak membawa kebaikan, malah sangat banyak membawa keburukan bagi kita. Uraian dibawah akan menyajikan beberapa argumentasi yang mendasari premis saya itu.
Alasan pertama yang membuat saya tidak setuju dengan konsep pacaran adalah karena bagi saya cinta itu tidak ada dan tidak nyata. Yang ada di dunia ini adalah hukum sebab akibat yang termaterialkan dalam bentuk pamrih atau motif. Baik pamrih positif maupun pamrih negatif. Cinta sejati hanya ada tiga yaitu cinta antara Allah kepada manusia, cinta Rasulullah kepada umatnya dan cinta orang tua (terutama ibu) kepada anaknya.
Alasan kedua adalah karena dalam berpacaran akan muncul keinginan untuk saling memiliki. Hasrat inilah yang dijadikan sebagai pembenaran untuk mengatur hidup pacar masing-masing. Padahal sebenarnya mereka belum punya hak sama sekali untuk melakukan itu. Yang memiliki hak mengatur hidup seseorang hanyalah orang tuanya selama si anak belum menikah. Karena orang tualah yang membiayai seluruh kebutuhan hidupnya. Baru melalui prosesi nikah yang sah, sang suami atau isteri memperoleh hak untuk mengatur hidup pasangannya masing-masing berdasarkan kesepakatan bersama.
Saya sendiri berencana apabila anak saya sudah besar nanti, saya akan melarang dia untuk berpacaran. Boleh saja berteman dekat, tapi jangan sampai menyatakan cinta dan bersedia menjadi pacar seseorang. Jauh lebih baik mempunyai banyak teman dekat daripada memiliki satu orang pacar. Semakin banyak teman berarti semakin banyak silaturahmi. Semakin banyak melakukan silaturahmi biasanya semakin banyak rejekinya. Saya akan bilang ke anak saya nanti : "Jangan takut disebut sebagai playgirl atau playboy. Karena sebutan itu menunjukkan ketidakmampuan mereka melemahkan prinsipmu untuk tidak berpacaran. Apabila ada yang terus menerus menyebutmu seperti itu dan kamu tidak terima, jangan kuatir karena ada bapak yang selalu ada di depanmu untuk membelamu." :-)
Alasan ketiga adalah karena apabila dua orang yang berpacaran sedang bertengkar, maka seluruh energi mereka akan habis tersedot untuk menyelesaikan pertengkarannya. Padahal pertengkaran atas nama cinta itu benar-benar tidak cukup berharga untuk diberikan perhatian lebih. It's not worhty enough jack, really... Sangat tidak layak apabila air mata dikeluarkan hanya sekedar karena cinta belaka. Lebih baik apabila energi itu disalurkan untuk melakukan pengembangan diri atau untuk menyenangkan diri sendiri. Masih banyak hal penting lain yang jauh lebih layak dikerjakan dibandingkan membiarkan energi kita habis untuk sesuatu yang dinamakan cinta.
Alasan keempat adalah karena berpacaran akan memunculkan suasana yang tidak sehat bagi kita. Menurut Harry dalam film "When Harry Met Sally', bohong apabila seorang laki-laki berkawan dengan perempuan tanpa ada pamrih apapun. Jadi tidak akan ada relasi adik-kakak dalam hubungan antara cewek-cowok. Yang ada adalah interest, termasuk di dalamnya adalah nafsu syahwat. Nah, nafsu inilah yang berbahaya. Dalam sepanjang sejarah peradaban manusia, pertumpahan darah terjadi seringkali disebabkan oleh urusan bagian bawah perut ini. Kisah perkelahian antara Habil dan Qabil dalam Islam diakibatkan oleh nafsu syahwat. Demikian juga di jaman Romawi dulu, Troya runtuh tidak jauh-jauh dari urusan bawah perut. Troya hancur karena memperebutkan perempuan bernama Helen. Sehingga dikenal-lah Helen of Troy.
Sayang sekali apabila terjadi kehamilan akibat hubungan seksual pra nikah. Karena belum siap untuk menikah dan merawat anak, akhirnya kandungan diaborsi. Baru saja saya selesai melihat tayangan tentang proses aborsi. Dalam tayangan itu diperlihatkan bagaimana bayi-bayi itu bergerak-gerak ketakutan dan merasa sakit saat alat penghancur memasuki rahim, yang terekspresikan melalui peningkatan intensitas detak jantung bayi. Miris hati saya melihat tayangan itu, how dare did they do that stupid thing?
Empat hal itu sudah cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa pacaran jauh lebih banyak membawa keburukan daripada kebaikan. Pacaran tidak menjamin kita mampu memahami pasangan sepenuhnya. Buktinya banyak yang menghabiskan sekian tahun untuk pacaran dengan alasan agar lebih saling mengenal, setelah setahun menikah langsung bercerai.
Maka apabila membutuhkan waktu untuk mengenal calon suami atau isterinya, tidak berarti harus melalui metode berpacaran. Karena ternyata proses memahami dan mengerti pasangan masing-masing akan berlangsung seumur hidup sampai mati.
Atas nama cinta? Enggak deh...
sumber: http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/l/c1115.shtml
Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja
0 komentar Diposting oleh Rizdiani Tri Prastiti's Blog di 08.01.00Sebuah bis datang, dan kau bilang, "Wah...terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja"
sumber: http://ceritaceritabagus.blogspot.com/
Semakin Banyak Memberi Semakin Banyak Menerima
0 komentar Diposting oleh Rizdiani Tri Prastiti's Blog di 11.59.00"Namaku Linda & aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat & mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.
Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi & ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan & kata ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk kedalam ruangan & saat itu ia tahu, inilah wanita yang akan menikah dengannya. Itu menjadi kenyataan & kini mereka telah menikah selama 40 tahun & memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah & memberikan mereka dua orang cucu.
Mereka bahagia & selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih & kebijaksanaan.
Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang terbaik.
Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor. Kata ibuku,"Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian".
Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita aku harus patuh pada suamiku & selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang wanita harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.
Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi & menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, & dia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur.
Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku. Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, & ketika ibuku bertanya ,"untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua & jelek sekali".
Ayahku menjawab, "aku ingin kau tetap merasa cantik". Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan & kasih sayang, para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya. Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar.
Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,"...kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku...kau tahu kenapa?" Aku menggeleng & ibuku melanjutkan, "karena aku tak pernah meninggalkannya..."
Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi & ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, & cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.
